DPRD Kabupaten Gresik Nilai Proyek Drainase Terkesan Asal-Asalan

23

Dampak negatif molornya pelaksanaan proyek infrastruktur pun terjadi. Proyek peningkatan jalan di Betoyo-Dagang, Manyar, misalnya. Gara-gara proyek itu dikerjakan saat mulai memasuki hujan dan hingga kini belum beres, air pun meluber ke rumah-rumah warga.

Kemarin (13/11) hujan kembali mengguyur sejumlah wilayah di Gresik. Tak terkecuali Kecamatan Manyar. Nah, di wilayah tersebut, ada sejumlah proyek yang belum tuntas. Salah satunya, peningkatan jalan sekaligus pembuatan drainase. Karena di saluran air belum ada tembusan, genangan air meluber hingga masuk ke halaman rumah warga. Lokasinya di Desa Tanggulrejo.

Dari pantauan Jawa Pos, tidak semua rumah di sepanjang jalan tersebut terendam air. Hanya di sekitar gapura yang terendam. “Yang di sebelah timur gapura Tanggulrejo belum dikerjakan. Yang dikerjakan baru sebelah barat gapura saja. Padahal, sudah masuk musim hujan begini,” ungkap beberapa warga sekitar.

Syahrul Munir, anggota DPRD Gresik, ikut geram dengan adanya genangan tersebut. Dia menyatakan sebelumnya sudah mengusulkan agar pengerjaan drainase itu menggunakan u-dicht, bukan batu alam seperti sekarang. Sebab, prosesnya akan lebih lama. “Sudah saya wanti-wanti karena proyek di situ tergolong lamban. Pernah kami inspeksi juga,” ujarnya.

Politikus PKB itu mengungkapkan, perencanaan proyek tersebut terkesan asal-asalan. Pekerjaan tidak memperhitungkan waktu dan potensi dampak sosial masyakarat. “Akhirnya begitu hujan deras, air tidak bisa mengalir,” katanya.

Sekretaris Komisi III DPRD Gresik Abdullah Hamdi juga menyoroti perencanaan pekerjaan infrastruktur. Dia menyebutkan, instansi terkait terbukti kurang jeli. Padahal, anggaran proyek itu sekitar Rp 9 miliar. Dia pun meragukan kualitasnya lantaran pengerjaan tersapu hujan. Sejauh ini, proyek di wilayah Manyar tersebut kurang sekitar 125 meter. “Kami sudah meminta progresnya, tapi belum dikirim,” ucapnya.

Bukan hanya proyek di wilayah Manyar, Hamdi juga menyoroti pembangunan jalan di lokasi lain. Sebut saja, Jalan Panglima Sudirman. Pada Selasa malam (12/11), sebuah mobil terguling setelah menabrak motor yang berhenti di depannya. Hamdi menjelaskan, meski tidak secara langsung, tergulingnya mobil itu juga dampak pengerjaan drainase di akses tersebut. “Mobil itu kan oleng. Banting setir, kemudian masuk ke proyek dan terguling,” ungkapnya.

Dia juga menuturkan soal kelemahan antisipasi terhadap potensi kesehatan dan keselamatan kerja (K3). Padahal, sebelumnya, banyak kalangan dewan yang mengingatkan agar ada rambu-rambu atau pembatas. Dengan demikian, proyek itu tidak sampai mengganggu lalu lintas atau berpotensi terjadi kecelakaan. “Kami minta dinas terkait mengevaluasi proyek yang dikerjakan tahun ini. Tidak sedikit yang asal-asalan,” tuturnya.

Dihubungi secara terpisah, Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pemkab Gresik Dhiannita Triastuti menyatakan bahwa air di proyek peningkatan Jalan Betoyo-Dagang itu meluber karena masih ada permasalahan di lapangan. Yakni, ada rumah yang menjorok dan tidak mau dikepras untuk kebutuhan saluran air.

[Selengkapnya …]