Penyimpangan Sawah Fiktif Diduga Sejak Perencanaan

219

Badan Pemeriksa Keuangan masih menelisik potensi kerugian negara dalam Program Kemitraan dan Bina Lingkungan Badan Usaha Milik Negara Peduli yang diluncurkan Dahlan Iskan pada Desember 2012.

Menurut Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Achsanul Qosasi, proyek ini tak efektif sehingga berpoetnsi merugikan negara. “Penyimpangan ini diduga terjadi sejak perencanaan,” katanya di Gedung Parlemen, Kamis (4/6).

Achsanul mengatakan proyek ini melenceng dari realisasi pencetakan sawah yang hanya 0,1 persen. Dalam rencana awal, program Peduli BUMN akan mencetak sawah seluas 100 ribu hektare yang dibiayai dari sumbangan sosial beberapa perusahaan negara. Namun sawah yang jadi hanya 100 hektare. Lahan itu pun kini terbengkalai.

Dugaan penyimpangan tampak dari pemilihan lokasi di Ketapang, Kalimantan Barat. Berdasarkan survei, diketahui bahwa Ketapang awalanya calon area penangkaran benih padi, bukan kebun pangan. “Seharusnya lokasinya di Jawa atau di Merauke, yang sudah ditargetkan jadi lumbung pangan,” ujar Achsanul. BPK kian curiga proyek ini akal-akalan karena Kementerian Pertanian dan dinas tidak dilibatkan.

BPK pun mulai menelisik peran perusahaan negara yang menggarap proyek ini, yakni PT Sang Hyang Seri. Achsanul mengatakan, Sang Hyang Seri tidak kompeten mencetak sawah. “Sang Hyang Seri fokusnya bisnis industri pertanian, bukan untuk mencetak sawah,” ujarnya. BPK mengendus potensi kerugian negara dalam proyek ini mencapai Rp 208 miliar. “Semua bahan dan data BPK sudah diselidiki polisi.”

[Selengkapnya …]