Pavingisasi Sarangan Diduga Menyimpang – Fondasi Pasir Diganti Lumpur

150

Perbaikan jalan sekeliling telaga Sarangan di Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan menjadi jalan paving atau pavingisasi, mendapat kritik dari warga setempat. Sorotan diberikan, bukan saja karena kualitas pengerjaannya yang kurang bagus, tetapi juga karena beresiko pada keselamatan pengunjung di tempat wisata itu.

Diduga proyek pavingisasi yang dibiayai APBD senilai Rp 1,6 miliar itu menyimpang. Beberapa hari sebelumnya, ada tiga pengunjung yang menunggang kuda terjatuh, setelah kaki kuda terperosok ke lobang paving yang terlepas.

Kejadian itu memicu emosi warga. Kecurigaan mengarah pada fondasi atau urugan di bawah lapisan paving yang tidak memakai pasir, melanikan beledu atau lumpur kering.

“Pavingisasi ini tidak benar. Urugan untuk menata paving semestinya dari pasir. Tetapi ini dari lumpur kering atau beledu,” kata Jaimin, seorang tukang perahu yang parkir di seputar jalan paving kepada media, Senin (12/11).

Karena tidak menggunakan pasir, paving terlepas dari tempatnya saat hujan. Saat ini paving yang dipasang pihak kontraktor malah morat-marit setelah hujan mulai turun. Karena itu warga yakin jalan paving yang dibangun kontraktor ini tidak bertahan lama.

“Hanya dalam puluhan hari, paving itu pasti terlepas semua dari tempatnya. Karena cara memasang dan material yang digunakan tidak berkualitas,” kata warga lainnya.

Sesuai papan proyek, pembangunan jalan paving keliling Telaga Sarangan ini merupakan proyek lanjutan yang dikerjakan dalam waktu 150 hari. Namun di papan proyek tidak ditulis tanggal mulai dan selesainya. Sedangkan proyek pembangunan ini menelan anggaran Rp 1,6 miliar dari APBD tahun anggaran (TA) 2018.

Hanya, proyek pavingisasi ini turun 30 persen dari nilai pagu Rp 1.676.744.932. Biaya proyek menyimpang dari Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (Permen PU), yang menyebutkan penurunan nilai proyek tidak boleh lebih dari 20 persen, atau proyek itu masuk kategori tidak sehat.

“Kalau pemkab tidak turun, kami yakin jalan paving ini tidak bertahan dua bulan. Kepala Dinas Pariwisata juga pernah datang melihat, tetapi diam saja. Juga tidak memprotes penggunaan lumpur kering sebagai pengganti pasir,” timpal seorang warga yang menolak disebut namanya.

Namun warga berharap, aparat terkait melakukan inspeksi pembangunan jalan paving yang diduga ada penyimpangan ini.

[Selengkapnya …]